Menelusuri Coban Rais Ternyata Asyik Juga!

Posted by Lou Wisozk on July 23, 2018
Coban Rais yang mulai kelihatan

Beberapa tahun terakhir, wana wisata Coban Rais di Kota Batu mulai banyak diminati oleh para pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya spot foto yang ada di sana. Kebanyakan, spot foto tersebut berupa bunga-bunga dan berbagai macam alat transportai seperti sepeda.

Uniknya, saya malah tidak terlalu tertarik dengan aneka spot foto tersebut. Saya lebih tertarik dengan menyusuri jalan menuju Coban Rais sendiri. Kata ibu saya yang pada era 1980an pernah melakukan penjelajahan ke sana, tempat tersebut masih sepi. Belum banyak orang yang berkunjung, bahkan untuk sekadar menengoknya.

Kesempatan untuk menjelajahi Coban Rais datang saat rekan kerja saya mengajak untuk berwisata di suatu Minggu. Awalnya, kami akan pergi ke Coban Putri yang berada tak jauh dari Coban Rais. Namun, karena kami masih belum hafal medan jalannya, maka niat itu kami urungkan. Kami pun tiba di parkiran Coban Rais masih pagi sekitar jam 9.

Menelusuri jalan setapak menuju coban.

Namun, ternyata suasana sudah ramai. Banyak mobil dan bahkan bus datang dari luar kota. Padahal, jalan menuju Coban Rais cukup curam. Kebanyakan memang akan mencoba berfoto di spot yang sedang naik daun bernama Batu Flower Garden tersebut. Selepas membayar tiket seharga 10.000 rupiah per orang, kami pun segera masuk.

Karena tidak ada niat untuk menikmati spot foto di sana, kami langsung menuju jalan ke arah Coban Rais. Jalan ini dimulai dari sebuah tendon air besar yang mengalirkan air dari puncak bukit ke beberapa sungai kecil yang mengalir. Kami menyusuri sungai tersebut dan ternyata airnya sangat jernih. Beberapa pengunjung yang juga berniat ke coban  tersebut, sejenak singgah untuk membasuh muka atau merasakan sensasi dinginnya air yang mengalir.

Menyeberangi sungai dengan hati-hati.

Kami terus menyusuri jalan di pinggir sungai itu. Lama-lama, jalan menjadi lebih sempit dan tertutup tanaman perdu. Semak belukar dan beberapa pohon tinggi yang akarnya menuntai tepat di pinggir jalan setapak tersebut membuat kami harus hati-hati. Alasannya, beberapa bagian tanaman yang runcing bisa saja mengenai badan kami. Untunglah, kami berjalan beriringan dengan pengunjung lain yang sudah melewati jalan terlebih dahulu. Mereka sudah meminggirkan dahan dan ranting yang berjatuhan. Mereka juga memperingatkan kami untuk berhati-hati saat melewati pohon atau semak tertentu.

Kengerian semakin bertambah ketika kami harus menyeberangi sungai dengan air yang cukup deras. Untuk menyeberanginya, kami bahkan harus menaiki batu-batu licin. Kami terus beruntung lantaran ada beberapa petugas yang sigap membantu para peserta untuk menyeberang sungai. Mereka berada di dua sisi sungai dan memberi arahan jalan mana saja yang bisa dilewati. Walau ngeri, ternyata banyak juga pengunjung yang nekat menuju coban ini. Beberapa diantaranya bahkan ada anak-anak usia SD yang masih semangat untuk tiba di Coban Rais. Wah, melihat semangat mereka, masak saya kalah?

Coban Rais yang berada di kaki bukit.

Hampir satu jam lamanya kami berjalan dengan hati-hati menyusuri jalan setapak. Puncak dari kengerian itu terjadi saat kami hampir tiba. Kami harus menaiki tebing yang cukup curam. Dengan bacaan doa yang yang kami baca dalam hati, bersyukur kami bisa sampai dan menemukan coban yang kami cari.

Usaha keras kami tidak sia-sia. Coban setinggi kurang lebih 5 meter itu tampak gagah. Dari jarak yang masih jauh, kami bisa merasakan percikan air yang begitu segar. Suara gemuruh air yang deras terdengar lantang memenuhi relung telinga kami. Menyempurnakan kenikmatan kami menyusuri Coban Rais. Meski melelahkan, ternyata asyik juga ya.

Share!

CLOSE [x]